• Oktober 24 2021

Makna Maulid Nabi Muhammad SAW

maulid

Maulid Nabi atau Maulud merupakan peringatan hari lahir Nabi Muhammad SAW yang jatuh pada tanggal 12 Rabiul Awal. Dalam bahasa Arab kata Maulid atau Milad memiliki arti hari lahir. Tradisi Maulid Nabi juga telah berkembang di masyarakat jauh setelah Nabi Muhammad SAW wafat. Dikutip dari laman milik NU, perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW sudah dilakukan oleh masyarakat Muslim sejak tahun kedua hijriah. Kala itu, seorang bernama Khaizuran (170 H/786 M) yang merupakan ibu dari Amirul Mukminin Musa al-Hadi dan al-Rasyid datang ke Madinah dan memerintahkan penduduk mengadakan perayaan kelahiran Nabi Muhammad di Masjid Nabawi. Dari Madinah, Khaizuran juga menyambangi Makkah dan melakukan perintah yang sama kepada penduduk Makkah untuk merayakan kelahiran Nabi Muhammad SAW. Jika di Madinah bertempat di masjid, Khaizuran memerintahkan kepada penduduk Makkah untuk merayakan Maulid di rumah-rumah mereka. Khaizuran merupakan sosok berpengaruh selama masa pemerintahan tiga khalifah Dinasti Abbasiyah, yaitu pada masa Khalifah al-Mahdi bin Mansur al-Abbas (suami), Khalifah al-Hadi dan Khalifah al-Rasyid (putra). Setidaknya terdapat empat hikmah dari perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW, antara lain:

Bershalawat untuk Rasulullah SAW

Peringatan Maulid Nabi dapat mendorong umat Islam untuk senantiasa menghadirkan dan memperbanyak shalawat untuk Rasulullah SAW.

Menumbuhkan kecintaan pada Rasulullah

Maulid Nabi merupakan momentum untuk meneguhkan kembali rasa cinta kita pada Nabi Muhammad SAW dengan mengiktui ajarannya. Mencintai Nabi Muhammad juga mencintai Allah SWT dan agama Allah .

Melanjutkan perjuangan Nabi Muhammad SAW

Peringatan tersebut bagi umat muslim adalah penghormatan dan pengingat kebesaran serta keteladanan Nabi Muhammad SAW, dengan berbagai bentuk kegiatan budaya, ritual dan keagaamaan.

Dilansir dari laman resmi kemenkumham, dijelaskan asal-usul perayaan Maulid Nabi bahwa seorang jenderal dan pejuang muslim Kurdi dari Tikrit (daerah utara Irak saat ini) yang dikenal sebagai Salahuddin Ayyubi (Masa kekuasaan 1174 M. – 4 Maret-1193 M) mengimbau umat Islam di seluruh dunia agar hari lahir Nabi Muhammad saw pada 12 Rabiul Awal, yang setiap tahun berlalu begitu saja tanpa diperingati, kini dirayakan secara massal. Salahuddin ingin agar perayaan maulid nabi menjadi tradisi bagi umat Islam di seluruh dunia dengan tujuan meningkatkan semangat juang, bukan sekadar perayaan ulang tahun biasa. Namun gagasan Salahuddin tentang Peringatan Maulid Nabi (35-41) ditentang oleh para ulama, sebab sejak zaman Nabi peringatan seperti itu tidak pernah ada. Akan tetapi Salahuddin menegaskan bahwa perayaan maulid nabi hanyalah kegiatan yang menyemarakkan syiar agama, bukan perayaan yang bersifat ritual, sehingga tidak dapat dikategorikan bid`ah yang terlarang. Ketika Salahuddin meminta persetujuan dari Khalifah An-Nashir di Bagdad, ternyata khalifah setuju. Maka pada ibadah haji bulan Dzulhijjah 579 Hijriyah (1183 Masehi), Sultan Salahuddin al-Ayyubi sebagai penguasa Haramain (dua tanah suci, yaitu: Makkah dan Madinah) mengeluarkan instruksi kepada seluruh jamaah haji, agar jika kembali ke kampung halaman masing-masing segera menyosialkan kepada masyarakat Islam di mana saja berada, bahwa mulai tahun 580 Hijriah (1184 Masehi) tanggal 12 Rabiul-Awwal dirayakan sebagai hari maulid nabi dengan berbagai kegiatan yang membangkitkan semangat Umat Islam. Terdapat lima nilai dan makna dalam perayaan Maulid Nabi ini, antara lain:

Pertama, nilai spiritual. Setiap insan muslim akan mampu menumbuhkan dan menambah rasa cinta pada beliau melalui maulid. Luapan kegembiraan terhadap kelahiran Nabi Muhammad SAW merupakan bentuk cerminan rasa cinta dan penghormatan kita terhadap beliau sebagai pembawa rahmat bagi seluruh alam sebagaimana surah Yunus; 58. Karena figur teladan ini diutus untuk membawa rahmat bagi seluruh alam (surah al-Anbiya’; 107). 

Kedua, nilai moral dapat dipetik dengan menyimak akhlak terpuji dan nasab mulia dalam kisah teladan Nabi Muhammad SAW. Mempraktikan sifat-sifat terpuji yang bersumber dari Nabi Muhammad SAW adalah salah satu tujuan dari diutusnya Nabi Muhammad SAW. Dalam peringatan maulid Nabi Muhammad SAW, kita juga bisa mendapat nasehat dan pengarahan dari ulama agar kita selalu berada dalam tuntunan dan bimbingan agama.

Keempat, nilai sosial. Memuliakan dan memberikan jamuan makanan para tamu, terutama dari golongan fakir miskin yang menghadiri majelis maulid sebagai bentuk rasa syukur kepada Sang Maha Pencipta.

Kelima, nilai persatuan akan terjalin dengan berkumpul bersama dalam rangka bermaulid dan bershalawat  maupun berdzikir. Diceritakan bahwa Shalahuddin al-Ayubi mengumpulkan umat islam di kala itu untuk memperingati maulid Nabi Muhammad SAW. Hal itu dilakukan oleh panglima islam tersebut, bertujuan untuk mempersolid kekuatan dan persatuan pasukan islam dalam menghadapi perang salib di zaman itu.

Berita Lainnya

Satya Ananta meraih juara Harapan II kategori Industri Pariwisata Budaya di ajang LIP3D 2022

Satya Ananta berhasil meraih juara Harapan II kategori Industri Pariwisata…

Read More
Satya Ananta meraih juara II kategori Industri Perikanan di ajang LIP3D 2022

Satya Ananta memperoleh keberhasilan gemilang sebagai juara II kategori Industri…

Read More
Satya Ananta meraih Juara Harapan III kategori Pendidikan di ajang LIP3D 2022

Satya Ananta berhasil meraih Juara Harapan III pada kategori Pendidikan…

Read More